√ [FILOSOFI] Tuah Keris Pasopati Pusaka Arjuna

Keris Pasopati biasanya digunakan oleh para Pendekar, sebagian juga dijadikan senjata Pusaka para Raja zaman kejayaannya. Keris Pasopati, di gambarkan sebagai salah satu, keris tertua yang merupakan bapaknya dari berbagai macam keris.

tuah keris pasopati

Keris Pasopati, termasuk dalam golongan Keris lurus yang cukup tersohor, dan banyak dicari oleh para kolektor barang Antik dan penggemar Tosan Aji. Keris Pasopati, biasanya memakai odo-odo sehingga permukaan bilah terlihat seperti Nggigir Sapi dengan kesan yang ramping.

Adapun Ricikan lainnya pada Keris Pasopati ini sebagai berikut:
  • Kembang Kacang pogog yang menjadi ciri khasnya
  • Lambe gajah satu
  • Sogokannya rangkap
  • Dan Ri pandan.
Kadang juga ada yang memakai Gusen, dan lis-lisan pada bilah kerisnya.

Keris Pasopati, sangat identik dengan senjata andalan Arjuna salah satu dari kesatria penengah Pandawa dalam cerita pewayangan.
Pasopati dalam cerita pewayangan bukan berwujud sebilah Keris, tapi berewujud senjata panah.
Pasopati merupakan simbol Keteguhan dan Kerendahan hati, seperti yang di kisahkan dalam cerita pewayangan ketika Arjuna bertapa karena bentuk kesadarannya sebagai seorang kesatria yang ingin
melakukan Dharma kewajibannya di tengah masyarakat. Arjuna merupakan lambang pemimpin yang rela mengorbankan jiwa, raga dan harta bendanya demi Negaranya.

Dalam tapanya Arjuna di uji oleh Dewa, apakah tapanya tersebut hanya demi ambisi pribadi atau benar-benar demi pengabdian yang murni.
  1. Ujian pertama datang dalam wujud tujuh Bidadari utusan Bathara Indra dengan kecantikan yang tidak tertandingi menggoda Arjuna yang sedang bertapa di Gunung Indrakila. Tapi Arjuna tidak tergoda oleh godaan para Bidadari yang cantik jelita tersebut.
  2. Selanjutnya Bathara Indra sendiri yang menguji keyakinan Arjuna untuk memastikan apakah niatnya
    benar-benar tulus sebagai bentuk Dharma, ataukah hanya seseorang yang melarikan diri dari keduniawian. Bathara Indra menyamar sebagai seorang Resi tua yang memperolok dan menggugah rasa kesatriaan Arjuna. Dia muncul dalam bentuk seorang Resi yang menghardik Arjuna, bahwa dengan segala tapa bratanya tersebut, Arjuna belum mencapai
    kesempurnaan karena sebetulnya Arjuna hanya mengejar pembebasan dirinya sendiri. Tapi dengan teguh Arjuna menjawab, bahwa tujuannya bukanlah untuk keselamatan dirinya sendiri dan juga bukan untuk kepentingan keluarga
    Pandawa, melainkan untuk menyelamatkan kebenaran dalam peperangan akhir antara Dharma melawan Adharma. Demi Dharmanya itu Arjuna berani menghadapi apa saja, bahkan kematian sekalipun akan dihadapinya. Resi tua tersebut kembali pada wujudnya sebagai Bathara Indra.
  3. Bathara Indra merasa bahagia karena telah menemukan seorang kesatria berbudi luhur yang akan mampu menghadapi Niwatakawaca, yaitu Raksasa Angkara Murka yang mengancam Khayangan yang merupakan Istana para Dewa.
Ujian berikutnya adalah Mamang Murka
Yaitu raksasa utusan Prabu Niwatakawaca berwujud babi hutan raksasa yang menyerang Arjuna dengan
ganas. Akhirnya babi hutan tersebut mati dipanah oleh Arjuna.
Tapi persoalan timbul karena babi hutan tersebut mati, karena dua buah anak panah yang menancap ditubuhnya. Ternyata ada seorang kesatria lain yang juga membidikkan anak panahnya ke tubuh babi
hutan tersebut. Sebetulnya sudah selayaknya Arjunalah yang berhasil membunuh babi hutan raksasa tersebut
karena dia yang bertarung keras, bertanding penuh luka dengan babi hutan tersebut sampai akhirnya berhasil membunuhnya.

Seharusnya Arjuna, merasa lebih berjasa dari pada Ksatria asing yang tanpa melakukan perkelahian sebelumnya dan langsung memanah babi hutan raksasa tersebut. Sang ksatria menantang Arjuna, untuk perang tanding mengadu kesaktian, akan tetapi bagi Arjuna
nama bukanlah yang utama, karena siapapun yang mendapatkan nama dan berhak mendapat karunia bukan menjadi pertimbangan Arjuna.

Arjuna berkata kepada kesatria "Wahai kesatria, jika kamu merasa berhak sebagai pembunuh Mamang Murka, dan mau melaporkannya ke Khayangan, silahkan saja. Karena bagiku, ada Adharma yang mati sudah memadai, karena itu adalah bentuk kasihku terhadap kebenaran". Ksatria itu merasa di permalukan, dengan pernyataan Arjuna yang menohok kesombongannya dia lantas menyerang Arjuna sehingga terjadilah perang tanding yang luar biasa. Akhirnya baju perang Arjuna hancur, akan tetapi Arjuna berhasil mendekap kedua kaki musuhnya, sehingga musuhnya terjatuh dan perkelahian terhenti.

Tiba-tiba, kesatria tersebut berubah wujud menjadi Bathara Guru. Bathara Guru sangat terkesan atas kerendahan hati Arjuna. Arjuna telah lulus ujian akhir, dan oleh Bathara Guru, kemudian Arjuna diberi hadiah berupa seperangkat senjata panah bernama Pasopati.
Pasopati berasal dari dua kata yaitu "Pashu/Pasu" yang artinya hewan, dan "Pati" yang artinya mati/kematian. Jadi Pasopati memiliki makna matinya
sifat/watak binatang dalam diri Manusia. Pasopati adalah senjata andalan untuk menaklukkan sifat binatang dalam diri Manusia, dan merupakan senjata bagi mereka yang sudah sadar akan adanya sitat hewan di dalam dirinya yaitu "nafsu dan amarah" yang harus ditaklukkan.
Begitu luhur pemaknaannya, yang bisa di ambil dari kisah Arjuna dan pusaka saktinya yaitu "Pasopati". Oleh karena itu, para pemilik Keris Pasopati harus bisa menghayati makna yang ada pada Keris Dhapur Pasopati yang bisa dijadikan pelajaran untuk bisa menjadi Manusia yang lebih baik, karena itulah tuah Keris Pasopati yang sesungguhnya. Pasopati memiliki makna yang dalam untuk mengingatkan Manusia bahwa sifat hewan dalam dirinya harus dibunuh untuk bisa menjadi Manusia yang ungul, terutama bagi para pemimpin agar bisa mengesampingkan ego dan kepentingan pribadinya demi kepentingan rakyat dan Negaranya.

Keris Pasopati, merupakan sebuah pesan bagi para pemimpin agar bisa memberi pengayoman untuk rakyat yang di
pimpinnya dan merupakan simbol kepemimpinan sejati. Selain itu, makna yang terkandung di dalamnya, harus bisa ditanamkan hingga sekarang.

Makna dalam postingan ini, bukan hanya berlaku kepada Pemegang Keris Pasopati saja. Namun juga untuk kita semua, setiap kebaikan akan lebih baik kita terapkan, mencoba untuk selalu bersikap yang sebenarnya secara bijaksana.
Sukmaning Aji Hanya orang biasa yang sekadar ingin berbagi pengetahuan seputaran ilmu kanuragan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel